Jakarta, 7 Agustus 2026 – Pusat Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menyelenggarakan Seminar Nasional MKWK 2026 dengan tema “Reimajinasi Pembelajaran MKWK di Era Generatif AI: Meneguhkan Karakter Bangsa dan Kecakapan Abad 21”, Jumat (7/8).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan luring di Auditorium BTI Gedung Rektorat Lantai 4 UPNVJ ini menjadi rangkaian lanjutan dari kegiatan Bimbingan Teknis MKWK yang telah berlangsung pada 3–6 Agustus 2026. Seminar nasional tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari pemerintah, akademisi, dan praktisi untuk membahas tantangan serta peluang pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pembelajaran MKWK.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Bela Negara, serta pembacaan doa. Selanjutnya, peserta mengikuti Keynote Speech yang disampaikan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, S.Fil., M.Sc., M.B.A.

Dalam paparannya yang mengangkat tema “Kedaulatan Digital dan Transformasi Pendidikan Tinggi”, Nezar Patria menyoroti tantangan tata kelola kecerdasan artifisial dalam konteks global serta pentingnya membangun kedaulatan digital Indonesia. Perkembangan AI yang sangat cepat, menurutnya, menghadirkan tantangan baru bagi negara, termasuk terkait keamanan, ketergantungan terhadap teknologi, kesenjangan AI, serta persoalan integritas akademik akibat semakin kaburnya batas antara karya manusia dan mesin.
Lebih lanjut, Nezar menjelaskan bahwa pengembangan AI Indonesia perlu diarahkan pada ekosistem yang etis dan bertanggung jawab, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Peta jalan kecerdasan artifisial nasional diarahkan untuk memperkuat daya saing global, kedaulatan dan keamanan teknologi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi pada sektor-sektor prioritas nasional.
Dalam konteks pendidikan tinggi, Nezar menekankan tiga langkah strategis yang dapat dilakukan dosen MKWK, yakni reorientasi pedagogi, literasi AI berbasis nilai, serta kolaborasi lintas sektor. Generative AI perlu ditempatkan sebagai mitra dalam proses pembelajaran, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Literasi AI juga perlu dihubungkan dengan wawasan kebangsaan dan kedaulatan digital agar perkembangan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai Indonesia.

Usai keynote speech, kegiatan dilanjutkan dengan Welcoming Speech sekaligus pembukaan resmi oleh Wakil Rektor Bidang III yang mewakili Dr. dr. Ria Maria Theresa, SpKJ., MH. Rektor UPNVJ Prof. Dr. Anter Venus, MA., Comm. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pemberian cendera mata kepada Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI serta foto bersama jajaran pimpinan dan panitia. Rangkaian pembukaan kemudian dilengkapi dengan pemberian apresiasi kepada peserta terbaik, baik peserta luring maupun daring, berdasarkan kategori keaktifan, kedisiplinan, dan keteladanan.
Memasuki sesi panel pertama, seminar menghadirkan Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H., S.I.P., S.A.P., S.Pd., M.Si., M.H., CPM dan Yudi Latif, Ph.D. dengan moderator Dr. Fauzi Rahman, M.Pd.


Panel pertama mengangkat dua topik utama. Topik pertama membahas “Politik Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan di Persimpangan AI Generatif: Merawat Nalar Demokrasi dan Wawasan Kebangsaan Mahasiswa Indonesia”. Sementara topik kedua mengangkat “Dimensi Kebudayaan di Balik Merebaknya AI Generatif di Dunia Akademik: Apakah Teknologi Menggerus atau Memperkaya Identitas Kebangsaan?”
Melalui sesi tersebut, peserta diajak melihat perkembangan AI tidak hanya dari perspektif teknologi, tetapi juga dari aspek kebangsaan, demokrasi, kebudayaan, dan pendidikan karakter.
Dalam pemaparannya mengenai wawasan kebangsaan, Yudi Latif menekankan pentingnya pendidikan yang mampu menghasilkan pribadi yang memiliki keseimbangan antara karakter, pengetahuan, keterampilan, kemampuan berkolaborasi, serta kreativitas dan inovasi. Pembelajaran ideal diibaratkan seperti tanaman yang memiliki akar berupa akhlak dan karakter mulia, batang berupa pengetahuan, cabang berupa keterampilan dan tata kelola, daun berupa kerukunan dan kolaborasi, serta buah berupa kreativitas dan inovasi.
Yudi Latif juga menekankan pentingnya nilai-nilai Pancasila sebagai titik temu dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Menurutnya, penguatan konektivitas dan inklusivitas perlu dibangun melalui nilai bersama sehingga keberagaman dapat menjadi kekuatan kolektif yang dilandasi rasa saling percaya.
Setelah jeda istirahat, seminar dilanjutkan dengan Panel 2 yang dimoderatori oleh Hairunnisa Br. Sagala, S.Sos., M.A. Panel kedua menghadirkan Dr. Arqom Kuswanjono, M.Hum. dan Sherly Annavita Rahmi, S.Sos., M.SiPh. dengan pembahasan mengenai kesiapan kelembagaan MKWK serta karakteristik generasi mahasiswa di era AI.


Dr. Arqom Kuswanjono menyampaikan materi “Sejauh Mana Kita Siap? Kelembagaan MKWK dan Kapasitas Adaptif terhadap Penetrasi AI dalam Proses Pembelajaran.” Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan harus tetap berorientasi pada manusia (human-centered). AI dapat berfungsi sebagai asisten pembelajaran, tutor pendukung, alat analisis, media pembelajaran, maupun sistem rekomendasi, tetapi tidak menggantikan dosen maupun proses berpikir mahasiswa.
Ia juga menekankan pentingnya literasi AI yang mencakup kemampuan memahami cara kerja dan keterbatasan AI, menggunakan AI secara tepat, mengevaluasi informasi yang dihasilkan AI, serta memahami aspek etika, plagiarisme, hak cipta, privasi, dan tanggung jawab akademik.
Menurutnya, dosen MKWK memiliki posisi strategis dalam mempertahankan sisi kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi. Secara ontologis, manusia harus menjadi pihak yang memperalat AI, bukan sebaliknya. Sementara secara epistemologis, AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan keilmuan, tetapi manusia tetap memiliki kemampuan rasional, intuisi, perasaan, dan keyakinan yang menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan.
Selain itu, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk membangun tata kelola pemanfaatan AI melalui penyusunan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, sosialisasi kepada sivitas akademika, serta pembentukan mekanisme untuk mencegah dan menangani penyimpangan pemanfaatan AI.
Sementara itu, sesi kedua panel membahas “Membaca Cara Berpikir Generasi Z di Era AI: Bekal Dosen MKWK dalam Merancang Pembelajaran yang Relevan dan Membumi – Implikasi bagi Inovasi Pembelajaran MKWK” yang disampaikan oleh Sherly Annavita Rahmi. Pembahasan ini memberikan perspektif mengenai karakteristik generasi mahasiswa saat ini serta pentingnya adaptasi pendekatan pembelajaran agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi muda.

Seminar Nasional MKWK 2026 kemudian ditutup dengan penyampaian “Catatan Akhir” oleh Kepala LPMPP UPNVJ, Satria Yudhia Wijaya, S.E., M.S., Ak., sebelum rangkaian acara secara resmi ditutup oleh pembawa acara dan diakhiri dengan closing cinematic.
Melalui Seminar Nasional MKWK 2026, UPNVJ meneguhkan komitmennya untuk terus mendorong transformasi pembelajaran yang responsif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap berakar pada karakter bangsa, nilai-nilai Pancasila, integritas akademik, dan kecakapan abad ke-21.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi akademisi, pemerintah, praktisi, dan pengelola MKWK untuk merumuskan perspektif bersama mengenai pemanfaatan Generative AI dalam pendidikan tinggi. Teknologi diharapkan tidak menggantikan peran manusia dalam pendidikan, melainkan menjadi instrumen untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan membentuk mahasiswa yang kritis, kreatif, berkarakter, serta memiliki wawasan kebangsaan.
